CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Minggu, 02 Mei 2010

SilverMoon eps.1

Malam itu, bulan purnama memancarkan cahaya keperakannya dengan lembut di langit malam. Selina duduk di meja belajarnya sambil menatap keluar jendela memandangi sang rembulan di langit malam dengan perasaan rindu. Dirinya bagaikan terhanyut dalam sinar keperakan yang terpancar di balik jendela.

Tok.. Tok.. Tok.. seseorang mengetuk pintu kamar Seli, dan membuyarkan ia dari lamunannya. “Seli sayang..” suara lembut itu memanggil. “mama masuk ya..” sambung suara itu seraya membuka pintu. Sesosok wanita paruh baya memasuki kamar Seli. “mama ? ada apa ?” tanya Seli terkejut. Mama berjalan mendekati Seli sambil membawa secangkir coklat mint hangat di nampannya. “ini, mama membuatkan coklat mint kesukaan mu..” jawab mama lembut. Seli menatap cangkir yang berisi coklat mint hangat itu, uap panas tipis mengepul keluar dari dalam cangkir ke udara, di sertai aroma manis coklat dan aroma segar mint yang begitu menggeitik penciuman dan terasa begitu nikmat. “hmmm.. aromanya manis..” gungam Seli. Mama kemudian meletakan cangkir itu di meja Seli. “terima kasih mama..” balas Seli seraya di iringi senyuman. “sama-sama sayang..” jawab mama sambil membelai lembut rambut hitam Seli yang terpilin rapih dalam kepangan.

Tak lama setelah mama keluar meninggalkan Seli di kamar sendirian, Seli kembali termenung. Seli teringat cerita mama tentang arti namanya. “Selina Aria” mama berkata pada Seli. Nama Selina di ambil dari kata Selini yang berarti bulan, dan Aria di ambil dari kata Arian yang berarti perak. “kenapa namaku seperti itu ma ?” tanya Seli kecil pada mama. “karena kamu adalah bulan mama yang paling cantik diantara bulan yang lain, dan tak ada bulan lain yang seindah bulan yang bersinar keperakan nan berkilau seperti bulan mama tersayang ini.” Jawab mama seraya memeluk Seli kecil yang baru berusia 5 tahun.

Di depan pintu kamar, mama yang baru keluar dari kamar Seli berdiri termenung bersandar pintu. Sambil mendekap nampan yang masih di bawanya, mata mama menerawang jauh. Tak lama kemudian mama menghela nafas panjang dan mendesah pelan sambil bergungam dengan suara samar-samar. “yang mulia, dia kini telah tumbuh menjadi gadis jelita dan semakin mirip dengan mu.” Seraya mama memejamkan mata sejenak membayangkan sebuah sosok, kemudian bangkit dari renungannya dan kembali menjalani aktifitasnya.

Di sudut ruangan, seseorang memperhatikan mama dengan tatap curiga. Tatapan mata tajamnya menyimpan pertanyaan akan rasa penasaran dan rencana licik di baliknya. Merasa sedang di perhatikan, saat mama menoleh untuk mencari sumber tatapan itu, akan tetapi sosok itu bagai lenyap hilang dalam kegelapan di sudut ruangan. “perasaan ku sajakah, atau memang ada yang memperhatikan ku dengan pandangan tajam ?!” gungam wanita paruh baya itu dalam hati masih di iringi rasa gemetar yang merasukinya.

0 komentar: